Reportika.id || Kota Bekasi — Perbedaan mencolok dalam pengamanan perlintasan kereta api di Kota Bekasi memicu sorotan publik. Di satu sisi, Perlintasan Ampera dijaga ketat oleh aparat TNI pascakecelakaan.
Di sisi lain, Perlintasan Bulak Kapal justru mengandalkan peran organisasi masyarakat (ormas) dalam pengaturan lalu lintas. Situasi ini mencuat setelah insiden tragis di kawasan Stasiun Bekasi Timur yang menelan korban jiwa. Senin (04/05/2026).
Respons cepat terlihat di Perlintasan Ampera, yang kini dijaga layaknya titik prioritas dengan kehadiran aparat negara.Namun, perlakuan berbeda di lokasi lain menimbulkan pertanyaan serius: apakah standar keselamatan di Bekasi ditentukan berdasarkan insiden, bukan risiko,
Rekaman video yang beredar di media sosial, salah satunya diunggah akun @suci_lita, memperlihatkan kontras tersebut. Dalam video itu, terlihat aparat TNI siaga penuh di Ampera, sementara di Bulak Kapal, pengamanan dilakukan oleh pihak non-resmi.
Bagi warga, ini bukan sekadar perbedaan teknis. Ini menyangkut rasa aman. “Kalau dijaga aparat, jelas lebih tenang,” ujar salah satu pengguna jalan.
Sebaliknya, pelibatan ormas meski disebut sebagai bentuk swadaya dinilai rawan karena tidak semua memiliki kompetensi dalam mengatur lalu lintas di perlintasan aktif.
Masalahnya bukan pada siapa yang membantu, melainkan pada absennya standar baku yang konsisten. Perlintasan kereta adalah titik rawan dengan potensi kecelakaan fatal. Penanganannya tidak bisa bersifat reaktif menunggu korban jatuh baru bertindak.
Jika kehadiran aparat di Ampera adalah respons pascakecelakaan, maka pertanyaan berikutnya tak bisa dihindari: berapa banyak titik lain yang harus menunggu tragedi serupa agar mendapat perlakuan yang sama?
Hingga kini, belum ada penjelasan resmi dari pihak berwenang terkait perbedaan pengamanan tersebut. Tanpa kejelasan, publik melihat adanya ketimpangan dalam perlindungan keselamatan.
Negara seharusnya hadir secara utuh dan merata di setiap titik rawan, bukan selektif.Ketika satu perlintasan dijaga serius sementara yang lain diserahkan pada inisiatif seadanya, yang dipertaruhkan bukan hanya ketertiban—melainkan nyawa.
Sul




