Reportika.id || Bekasi Kota — Peringatan Hari Pendidikan justru diwarnai ironi di Kota Bekasi. Minimnya fasilitas dan ruang kelas masih menjadi persoalan serius, seperti yang terlihat di SDN Jakasampurna.
Di sekolah tersebut, satu ruang kelas terpaksa digunakan untuk dua kelompok belajar. Sistem belajar dibagi menjadi kelas A yang masuk pagi dan kelas B yang menggunakan ruangan yang sama pada siang hari. Kondisi ini mencerminkan keterbatasan sarana pendidikan yang belum sepenuhnya terpenuhi.
Selain itu, fasilitas penunjang belajar juga dinilai memprihatinkan. Sejumlah meja dan bangku siswa masih menggunakan material seadanya, mulai dari kayu hingga plastik, bahkan banyak yang sudah dalam kondisi rusak dan tidak layak pakai.

Saat ditemui, salah satu orang tua wali murid mengungkapkan kekhawatirannya terhadap kondisi tersebut. Ia menyebut, pembagian ruang kelas menjadi dua sudah berlangsung cukup lama dan belum ada perbaikan signifikan dari pihak terkait.
“Di sini masih banyak ruang kelas yang dipakai bergantian. Kelas A masuk pagi, nanti dipakai lagi oleh kelas B siang. Bangku juga banyak yang rusak, sudah tidak layak,” ujarnya.
Ia juga mempertanyakan penggunaan anggaran pendidikan yang dinilai belum menyentuh kebutuhan mendasar di sekolah. Menurutnya, perbaikan sering kali baru dilakukan setelah kondisi menjadi ramai atau viral di masyarakat.
“Kami mempertanyakan ke mana anggaran di Dinas Pendidikan. Kenapa sekolah-sekolah seperti ini tidak diprioritaskan? Jangan menunggu viral baru bergerak,” tegasnya.
Meski demikian, para orang tua mengaku tidak bermaksud mengeluh, namun hanya menuntut hak sebagai warga negara yang turut membayar pajak.
“Kita tidak mengeluh, tapi kita juga bayar pajak. Jadi berhak mempertanyakan ke mana anggarannya,” pungkasnya.
Kondisi ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah, khususnya Dinas Pendidikan Kota Bekasi, agar lebih serius dalam meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan demi kenyamanan serta kelayakan proses belajar mengajar.
Sule




