Oleh: Muhammad Ikhsan
(Kader HMI Cabang Langkat)
Reportika.id – Gerakan mahasiswa pada hakikatnya lahir dari idealisme, keberanian berpikir, dan kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya diposisikan sebagai kelompok akademik, tetapi juga sebagai kekuatan moral dan intelektual yang memiliki tanggung jawab untuk mengawal kehidupan sosial dan kebangsaan.
Namun, realitas gerakan mahasiswa hari ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Pragmatisme mulai masuk ke dalam ruang-ruang organisasi mahasiswa. Ukuran keberhasilan gerakan terkadang bergeser dari seberapa besar gagasan dan kontribusinya bagi masyarakat menjadi seberapa populer sebuah gerakan, seberapa besar kepentingan yang diperoleh, atau seberapa dekat organisasi dengan kekuatan politik tertentu.
Pragmatisme sebenarnya tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Sikap realistis dan kemampuan menyesuaikan diri dengan keadaan merupakan hal penting dalam menjalankan gerakan. Persoalannya muncul ketika kepentingan praktis mengalahkan prinsip, idealisme, dan keberpihakan kepada masyarakat. Pada titik inilah gerakan mahasiswa berpotensi kehilangan identitas perjuangannya.
HMI sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan memiliki posisi strategis dalam menghadapi persoalan tersebut. HMI tidak cukup hanya mencetak kader yang aktif secara organisatoris, tetapi harus mampu melahirkan kader yang memiliki kedalaman intelektual, kematangan moral, serta kepekaan terhadap persoalan umat dan bangsa.
Menurut penulis, salah satu jawaban paling penting terhadap pragmatisme adalah menghidupkan kembali tradisi intelektual. Membaca, menulis, berdiskusi, melakukan kajian, dan membangun argumentasi harus menjadi kebiasaan kader. Aktivisme tanpa pengetahuan akan mudah kehilangan arah, sementara pengetahuan tanpa keberanian untuk bergerak juga tidak akan memberikan perubahan.
HMI juga harus memperkuat kaderisasi. Kaderisasi jangan hanya dipahami sebagai proses memenuhi kebutuhan struktural organisasi, tetapi sebagai proses membentuk manusia yang memiliki kesadaran ideologis, integritas, dan tanggung jawab sosial. Kader harus memahami mengapa ia berorganisasi, untuk siapa perjuangan dilakukan, dan nilai apa yang harus dipertahankan.
Independensi juga menjadi prinsip yang tidak boleh ditawar. HMI harus mampu berkomunikasi dengan berbagai kelompok dan kekuatan sosial maupun politik tanpa kehilangan posisi kritisnya. Kedekatan dengan siapa pun tidak boleh membuat organisasi kehilangan keberanian untuk menyampaikan kebenaran.
Pada akhirnya, tantangan pragmatisme bukan hanya persoalan organisasi, tetapi juga persoalan karakter kader. Jika kader kehilangan idealisme, maka sebesar apa pun struktur organisasi tidak akan menjamin lahirnya gerakan yang kuat. Sebaliknya, kader yang memiliki ilmu, integritas, dan keberanian akan mampu menjaga marwah perjuangan dalam situasi apa pun.
Ran




