Reportika.id || Kota Bekasi – Wacana penutupan perlintasan rel di Jalan Pangeran Jayakarta I, Kelurahan Harapan Mulya, Kecamatan Medan Satria, terus menjadi perbincangan di tengah masyarakat.
Pemerintah menilai jalur tersebut berisiko terhadap keselamatan karena tidak tercatat sebagai perlintasan resmi dalam administrasi perkeretaapian.
Pembahasan penutupan itu mencuat usai digelarnya rapat koordinasi lintas instansi yang melibatkan Kementerian Perhubungan, Direktorat Jenderal Perkeretaapian, Balai Teknik Perkeretaapian, unsur pemerintah daerah, hingga pihak stasiun setempat.
Kabid Prasarana Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Sunaryo, mengatakan keselamatan pengguna jalan menjadi alasan utama rencana penutupan dilakukan.
Menurutnya, pemerintah ingin mencegah potensi kecelakaan di lokasi perlintasan yang selama ini digunakan warga setiap hari.
Ia menjelaskan, berdasarkan data dari pihak kementerian, akses tersebut tidak memiliki registrasi resmi sebagai perlintasan sebidang. Karena itu, pemerintah pusat mendorong agar jalur tersebut ditutup demi mengurangi risiko kecelakaan kereta api.
Meski begitu, proses penutupan disebut belum akan dilakukan dalam waktu dekat. Pemerintah masih akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sebelum kebijakan itu diterapkan.
Di tengah rencana tersebut, muncul persoalan baru yang menjadi perhatian warga, yakni belum adanya kepastian pembangunan akses pengganti.
Masyarakat berharap pemerintah segera merealisasikan Jembatan Penyeberangan Orang dan Motor (JPOM) agar aktivitas warga tidak terganggu ketika perlintasan ditutup nanti.
Dishub Kota Bekasi mengaku sudah mengusulkan pembangunan fasilitas penyeberangan kepada dinas teknis terkait agar bisa masuk dalam pembahasan anggaran perubahan.Namun hingga kini belum ada keputusan pasti mengenai instansi mana yang akan membangun fasilitas tersebut.
Ketua RW 004 Kelurahan Harapan Mulya, Rusnia Wati, menegaskan warga tidak menolak kebijakan keselamatan, namun meminta pemerintah menyiapkan solusi nyata sebelum jalur ditutup total.
Menurutnya, perlintasan itu menjadi jalur vital bagi pelajar, pekerja, dan menujuh ke kelurahan hingga masyarakat yang setiap hari melintas menuju dan wilayah seberang rel. Jika akses ditutup tanpa pengganti, warga harus memutar cukup jauh dan tentu akan berdampak pada aktivitas harian.
“Kami tidak keberatan kalau memang demi keselamatan. Tapi jangan sampai akses ditutup sementara solusi belum ada,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Humas RW 004, Fadkuri Mustofa Amin. Ia menilai penutupan tanpa akses alternatif bisa menyulitkan warga RT 001 dan RT 002 yang selama ini sangat bergantung pada jalur tersebut.
Selain memperpanjang waktu perjalanan, kondisi itu juga dikhawatirkan menghambat mobilitas anak sekolah dan masyarakat yang bekerja di wilayah seberang rel.
Warga juga mengaku hingga saat ini belum menerima sosialisasi resmi mengenai kapan penutupan akan dilakukan maupun seperti apa skema akses penggantinya.
Sementara itu, Ketua RW 005 Harapan Mulya, Sajiman, menyatakan pihaknya mendukung langkah pemerintah dalam meningkatkan keselamatan di area rel kereta.Namun ia meminta pemerintah tetap memperhatikan kebutuhan masyarakat, terutama soal akses penyeberangan yang aman dan mudah dijangkau.
Kini masyarakat berharap pemerintah tidak hanya fokus pada penutupan perlintasan, tetapi juga segera memberikan kepastian pembangunan fasilitas penyeberangan agar aktivitas warga tetap berjalan normal tanpa harus terbebani jalur memutar yang jauh.
Sul




