Reportika.id || Kota Bekasi – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Jakasampurna kembali menjadi sorotan setelah beredarnya video di media sosial yang memperlihatkan buah salak dalam kondisi kurang baik. Unggahan tersebut disebut berasal dari orang tua siswa Sekolah Dasar Negeri Jakasampurna empat dan memicu beragam tanggapan dari masyarakat.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Jakasampurna Yang berada di Jl Cendana 14, Dessy Natalia, menegaskan bahwa pihaknya segera menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengganti buah yang dinilai tidak layak konsumsi. Ia memastikan mekanisme penggantian sudah menjadi prosedur tetap apabila ditemukan bahan makanan yang kualitasnya menurun.
Dessy menjelaskan, pengelolaan menu MBG selama bulan Ramadhan memiliki tingkat kesulitan lebih tinggi dibanding hari biasa. Makanan yang dibagikan kepada siswa harus mampu bertahan hingga waktu berbuka puasa, sehingga proses pemilihan dan pengolahan bahan dilakukan lebih cermat.
Setiap menu, lanjutnya, telah melalui uji coba ketahanan terlebih dahulu. Dapur SPPG melakukan test food sebelum makanan didistribusikan untuk memastikan rasa, kualitas, dan daya tahan tetap terjaga. Evaluasi internal juga dilakukan secara berkala, terutama setelah adanya masukan dari orang tua murid.
Ia menambahkan, pihaknya kini menerapkan sistem distribusi harian selama Ramadhan guna meminimalkan risiko penurunan kualitas makanan. Untuk paket porsi kecil, disiapkan empat jenis menu dengan anggaran Rp8.000 per sajian. Sementara porsi besar terdiri dari lima jenis menu dengan nilai Rp10.000 per paket.
Sebelumnya, persoalan menu MBG juga telah dibahas dalam forum mediasi di Kantor Kelurahan Jakasampurna. Dalam pertemuan itu, pihak SPPG menyatakan terbuka terhadap kritik dan siap melakukan perbaikan menyeluruh pada sistem pengadaan maupun distribusi.
Secara terpisah, Lurah Jakasampurna Muhammad Wildan Nuky Fahmi menyampaikan bahwa koordinasi antara kelurahan dan dapur SPPG terus diperkuat. Ia menekankan pentingnya respons cepat terhadap setiap aduan masyarakat agar kepercayaan publik terhadap program MBG tetap terjaga.
Menurutnya, meski pengawasan tidak dapat dilakukan setiap hari di seluruh dapur, pemantauan rutin dan komunikasi aktif menjadi langkah utama untuk memastikan makanan yang diterima siswa tetap aman, layak, dan sesuai standar gizi.
Dengan evaluasi berkelanjutan selama Ramadhan, pemerintah kelurahan dan pengelola dapur berharap kualitas layanan MBG semakin optimal dan kejadian serupa tidak kembali terulang.
Sul




