Rabu, September 23, 2026
spot_img
spot_img
spot_imgspot_img

Top News

Nasional

Kriminal

Yohanes Oci Sentil AHY: Jangan Terlalu Dini Bicara Kekuasaan, Koalisi Bisa Gaduh

spot_img

Reportika.id || Jakarta – Pernyataan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) soal kekuasaan yang memiliki batas waktu dinilai Direktur Eksekutif Pusat Studi Politik dan Pemerintahan Indonesia (Puspolrindo), Yohanes Oci, terlalu dini dan berpotensi memicu kegaduhan di internal koalisi pemerintahan.

 

Yohanes menilai, secara prinsip pernyataan AHY benar dalam perspektif demokrasi. Namun, secara etika dan komunikasi politik, waktunya tidak tepat, mengingat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih berjalan dan Partai Demokrat merupakan bagian dari koalisi.

Baca Juga  Tak Berhenti di Penemuan Mobil, Polisi Terus Buru Pelaku Pencurian Honda Brio hingga DPO BH Ditangkap

 

“Prinsipnya benar, tetapi terlalu dini. Jangan sampai pesan demokrasi justru dibaca sebagai sinyal politik menuju pertarungan kekuasaan 2029. Ini bisa membuat koalisi gaduh,” ujar Yohanes Oci melalui sambungan telepon seluluernya pada Rabu (09/09/2026).

 

Menurutnya, elite politik semestinya lebih mengutamakan stabilitas pemerintahan daripada membuka ruang spekulasi politik mengenai pergantian kekuasaan.

 

“Belum saatnya bicara perebutan kekuasaan ketika pemerintahan baru berjalan. Secara politik, ini kurang etis. Koalisi dibentuk untuk membantu pemerintahan bekerja, bukan untuk terlalu cepat memanaskan kontestasi pilpres,” ujarnya.

Baca Juga  Hari Kelima Tim SAR Gabungan Perluas Pencarian Hingga Radius 2.537 Nautical Mile Persegi di Perairan Selat Sunda

 

Yohanes mengingatkan bahwa setiap pernyataan elite partai, terlebih dari pimpinan partai yang berada dalam pemerintahan, memiliki konsekuensi politik. Karena itu, komunikasi politik harus mempertimbangkan dampaknya terhadap soliditas koalisi dan kepercayaan publik.

 

“Jangan sampai pernyataan yang dimaksudkan sebagai refleksi demokrasi justru menjadi bola liar politik. Kalau pesan itu menimbulkan kegaduhan di antara sesama pendukung pemerintah, berarti ada persoalan dalam membaca momentum politik,” katanya.

 

Ia menegaskan, kritik terhadap kekuasaan tetap penting dalam demokrasi, tetapi harus ditempatkan pada momentum dan konteks yang tepat. Menurutnya, kedewasaan politik justru terlihat dari kemampuan elite menahan diri ketika kepentingan pemerintahan dan kepentingan elektoral mulai beririsan.

Baca Juga  Tim SAR Gabungan Sisir Lokasi Hilangnya Wartawan Saat Peliputan Erupsi Gunung Anak Krakatau

 

“Kalau terlalu cepat bicara 2029, publik nantinya akan bertanya pemerintahan hari ini saja belum juga selesai bekerja, tapi kok elite sudah sibuk membicarakan kekuasaan berikutnya?,” pungkasnya.

 

Man

Artikel Lainnya

Peristiwa

Daerah