Reportika.id || Kota Bekasi – Aktivitas belajar mengajar di SDN Jatikramat I, Kecamatan Jatiasih, tetap berlangsung di tengah proyek rehabilitasi total gedung sekolah. Di sisi lain, pelaksanaan pekerjaan konstruksi memunculkan sorotan lantaran pengamanan di area proyek dinilai belum sepenuhnya memenuhi standar keselamatan bagi lingkungan pendidikan.
Pantauan di lokasi menunjukkan proyek yang dibiayai APBD Kota Bekasi Tahun Anggaran 2026 sebesar Rp1.791.096.000 itu masih berjalan berdekatan dengan area yang dilalui siswa dan wali murid.
Meski papan proyek, banner Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta garis pembatas telah tersedia, belum terlihat pemasangan safety net atau jaring pelindung yang lazim digunakan untuk mengantisipasi material bangunan jatuh dari area pekerjaan.
Kondisi tersebut membuat sejumlah orang tua merasa khawatir. Mereka menilai aktivitas pembangunan seharusnya diimbangi dengan sistem pengamanan yang lebih maksimal, mengingat lokasi proyek berada di lingkungan sekolah yang setiap hari dipenuhi anak-anak.
Salah seorang wali murid, Deriyati, mengaku tetap mengantar kedua anaknya bersekolah meski merasa waswas selama proyek berlangsung.
“Kalau mengikuti aturan sekolah ya kami ikut saja. Tapi sebagai orang tua tetap ada rasa khawatir. Takut kalau ada material bangunan yang jatuh atau mengenai anak-anak maupun orang tua yang sedang menunggu,” ujarnya kepada wartawan, Kamis (30/7/2026).
Ia mengatakan kondisi pengamanan di sekitar proyek tidak banyak berubah sejak pekerjaan dimulai beberapa bulan lalu. Menurutnya, pihak sekolah memang telah mengingatkan siswa agar tidak mendekati lokasi pembangunan, namun hal tersebut dinilai belum cukup menghilangkan kekhawatiran para wali murid.
Selain potensi material bangunan, debu dari aktivitas proyek juga menjadi perhatian. Meski demikian, para orang tua mengaku tidak memiliki pilihan lain selain tetap mengizinkan anak-anak mengikuti kegiatan belajar di sekolah.
Pengakuan mengenai belum adanya jaring pengaman juga disampaikan salah seorang pekerja proyek bernama Nana. Ia menyebut sejak awal pekerjaan berlangsung fasilitas tersebut memang belum tersedia.
“Belum ada safety net dari awal. Kami hanya diingatkan untuk bekerja hati-hati,” katanya.
Nana juga mengaku tidak mengetahui secara pasti mekanisme pengawasan dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman, dan Pertanahan (Disperkimtan) Kota Bekasi. Menurutnya, proyek telah berjalan sekitar dua bulan dan selama itu belum ada komplain yang disampaikan langsung kepada pekerja.
Menanggapi persoalan tersebut, Ketua Tim Pelaksana Teknis (Peltek) Disperkimtan Kota Bekasi, Ifdal, menyatakan akan meminta pelaksana proyek melengkapi pengamanan berupa jaring pelindung.
“Kalau safety net memang nanti saya minta dipasang. Di RAB ada komponen K3, nanti saya suruh pelaksana melengkapinya,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (31/7/2026).
Sebelum memberikan penjelasan tersebut, Ifdal sempat melontarkan pernyataan yang menjadi perhatian ketika menanggapi kekhawatiran wali murid.
“Ah, ngapain orang tua murid ngurusin safety?” katanya melalui sambungan telepon.
Ifdal menjelaskan kegiatan belajar tidak dipindahkan ke lokasi lain karena keterbatasan lahan dan tidak adanya alokasi anggaran untuk relokasi sementara. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi pertimbangan sehingga proyek tetap dilaksanakan bersamaan dengan aktivitas sekolah.
Pelaksanaan proyek rehabilitasi yang dikerjakan PT Argado Restu Agung itu kini menjadi perhatian publik. Pasalnya, meski hingga kini belum terjadi insiden, penerapan sistem keselamatan di lingkungan pendidikan dinilai menjadi aspek penting untuk meminimalkan potensi risiko terhadap siswa, tenaga pendidik maupun masyarakat yang berada di sekitar lokasi.
Hingga berita ini diterbitkan, pekerjaan rehabilitasi masih berlangsung dan kegiatan belajar mengajar di SDN Jatikramat I tetap berjalan seperti biasa. Belum terlihat adanya pemasangan safety net sebagai perlindungan tambahan di area konstruksi yang berdekatan dengan aktivitas siswa.
Sul




