Minggu, Juni 28, 2026
spot_img
spot_img
spot_imgspot_img

Top News

Nasional

Kriminal

Memudji Bayang-Bayang

spot_img

Oleh : Ilham MENDROFA

Reportika.id || Lampung Selatan – SIANG masih tegak ketika kendaraan kami meninggalkan Kalianda menuju Bandar Lampung. Saya menoleh ke belakang, memastikan sekali lagi bangunan kantor partai yang perlahan mengecil sebelum akhirnya hilang di balik pepohonan. Matahari menyinari terang lereng Gunung Rajabasa, sementara bayangan kantor itu memanjang hingga hampir menyentuh jalan raya. Pemandangan sederhana itu mengingatkan saya potongan vidio tadi pagi pada karya esai Jun’ichirō Tanizaki dalam In Praise of Shadows : keindahan tidak selalu lahir dari cahaya; sering kali justru bayang-bayanglah yang memberinya terang.

Beberapa jam sebelumnya, pesawat Citilink yang membawa Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Dr. Herman Khaeron, mendarat di Bandara Radin Inten II. Tanpa banyak jeda kami bergerak menuju Kalianda, melintasi hamparan kebun jagung, pepohonan yang berjajar rapat, dan jalan panjang yang membelah. Di kejauhan, Gunung Rajabasa berdiri tenang menghadap Selat Sunda, sementara Krakatau, meski tak terlihat, tetap menyimpan kisah tentang dentuman besar yang lahir dari kedalaman bumi. Perjalanan itu sempat diselingi kejadian kecil yang mengundang tawa ketika mobil _voorijder_ tertahan beberapa menit di pintu tol karena tak membawa kartu _e-money_. Beberapa menit yang menggelikan itu justru membuat perjalanan terasa lebih segar.

Lampung selalu mengajarkan sesuatu yang sulit diterangkan dengan angka. Ia bukan sekadar provinsi atau batas administratif, melainkan ruang yang membentuk watak. Rajabasa, Selat Sunda, angin pesisir, kopi-lada, dan Piil Pesenggiri tumbuh menjadi satu kesatuan yang membentuk cara warga Lampung menghormati sesama, memuliakan tamu, dan menjaga martabat. Saya merasa Lampung sebagai kampung kedua; tempat saya mengenal dunia, belajar tentang pengetahuan, kemanusiaan, seni, dan juga luka-luka kecil yang mendewasakan.

Namun sampai malam ini saya menulis naskah ini, hanya satu pertanyaan yang terus memenuhi kepala saya: *mengapa masih ada orang yang sungguh-sungguh membangun kantor partai?*

Pertanyaan itu tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan paradoks besar. Ketika sinisme terhadap politik semakin kuat, ketika anak-anak muda lebih mengenal pembuat konten daripada anggota legislatif, dan ketika partai lebih sering menjadi sasaran olok-olok daripada tempat menitipkan harapan, masih ada Muhammad Junaidi yang memilih menghabiskan tenaga, waktu, pikiran, bahkan hartanya untuk membangun rumah bagi sebuah organisasi politik. Padahal, hampir setiap ketua DPC pernah mengucapkan janji serupa, tetapi tidak semuanya menunaikannya.

Kantor DPC Partai Demokrat Lampung Selatan berdiri sekitar dua kilometer dari pintu tol Kalianda. Bangunannya tidak megah, tetapi terasa lapang. Empat ruang kerja saling berhadapan, ruang rapat berada di tengah, sementara di belakangnya sebuah kolam kecil memantulkan langit di samping saung yang teduh dan pepohonan yang bergoyang pelan ditiup angin. Bahkan wastafel dan toilet yang terawat bersih seolah mengingatkan bahwa penghormatan kepada manusia selalu dimulai dari hal-hal kecil yang sering luput diperhatikan. Kantor partai ini tidak sedang memamerkan kemewahan; ia sedang memperlihatkan kesungguhan.

Saya memahami bahwa membangun kantor partai tidak dimulai dari semen, besi, atau batu bata. Semua itu dapat dibeli. Yang sulit ditemukan adalah niat menjadikan partai sebagai rumah panjang perjuangan dan bukan sekadar kendaraan lima tahunan menuju jabatan. Hari itu saya melihat niat itu hidup pada dua orang: Dr. Edi Irawan dan Muhammad Junaidi, S.H., yang akrab kami panggil Bung Adi.

Saya mengenal Adi sejak ia menjadi junior saya di Universitas Lampung. Ada satu hal yang tidak pernah berubah sejak masa aktivis hingga hari ini: ketika ia tersenyum, bukan hanya bibirnya yang tersenyum, melainkan seluruh tubuhnya ikut tersenyum. Ia bergerak dari satu kelompok kader ke kelompok lain, merapikan kursi, menyapa tamu, memastikan semua berjalan baik, lalu tertawa hangat. Saya sering menggoda, “Di, kau ini bukan hanya ketua DPC. Kau ini artis sekaligus sutradara.” Ia selalu tertawa

Agusnadi

Artikel Lainnya

Peristiwa

Daerah