Reportika.id || Padang, Sumbar – Kegiatan Nonton Bareng Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia 2026 dan Diskusi Politik membahas arah diplomasi Menlu sebagai kompas navigasi politik luar negeri Indonesia diselenggarakan pada Rabu (14/01) di Convention Hall, Kampus Limau Manis.
Sekretaris UNAND, Dr. Aidil Zetra, M.A., menyampaikan bahwa kegiatan nonton bareng Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri RI 2026 merupakan bagian dari upaya kampus menjadikan kebijakan luar negeri sebagai laboratorium analisis akademik.
Ia menjelaskan bahwa pidato Menlu memuat aspek-aspek krusial, yakni evaluasi capaian diplomasi Indonesia sepanjang 2025, mulai dari perlindungan Warga Negara Indonesia, kedaulatan perbatasan, hingga diplomasi ekonomi, serta proyeksi arah kebijakan luar negeri Indonesia ke depan di tengah ketidakpastian global tahun 2026.
“Melalui Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri, kita dapat mencermati akuntabilitas masa lalu sekaligus melihat ke mana arah kebijakan luar negeri Indonesia akan dibawa ke depan,” ujarnya.
Selanjutnya, ia menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran penting untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan aktif mencatat dan mengkritisi substansi kebijakan yang disampaikan. Kritik tersebut mencakup relevansi prioritas diplomasi nasional dengan kebutuhan rakyat, strategi komunikasi hilirisasi industri di forum-forum global, serta posisi Indonesia dalam dinamika kawasan Indo-Pasifik yang terus berkembang.
“Mahasiswa tidak boleh sekadar menjadi penonton, tetapi harus aktif mencatat dan mengkritisi substansi kebijakan,” tegasnya.
Bincang Politik Luar Negeri (Polugri) yang dimoderatori oleh Sri Oktavia, S.H., M.Si., Ph.D., menghadirkan Masni Eriza, S.H., M.Si., selaku Kepala Pusat Strategi Kebijakan Multilateral Kementerian Luar Negeri, serta Dr. Muhammad Yusra, S.IP., M.A., dosen FISIP Universitas Andalas, sebagai penanggap.
Dalam sesi bincang ini menyorot topik mengenai prinsip Foreign Policy Begins at Home yang merupakan fondasi kebijakan luar negeri. Perbincangan ini membahas seputar kondisi geopolitik dunia, melihat diplomasi Indonesia yang berangkat dari kebutuhan rakyat.
Diplomasi tidak semata-mata berlangsung di forum internasional atau melalui perwakilan luar negeri, tetapi juga dijalankan di dalam negeri melalui proses edukasi publik, dialog kebijakan, serta pembentukan pemahaman masyarakat terhadap arah dan kepentingan politik luar negeri negara, sebagaimana ditekankan dalam konsep Foreign Policy Begins at Home yang menempatkan keterlibatan publik sebagai elemen penting dalam praktik diplomasi modern.
Universitas Andalas




