Oleh: Dede Sugiarto
Wartawan/Pimpinan Redaksi media Reportika.id
Era digital telah mengubah arus informasi serta arus teknologi yang kian deras, memaksa para jurnalis untuk cepat beradaptasi dalam lingkungan teknologi yang semakin pesat dan modern.
Revolusi informasi telah mengalami pergeseran dari media cetak ke media digital yang serba praktis, namun jurnalis dituntut cepat, tepat dan akurat dalam menyampaikan informasi.
Keberadaan media sosial, juga mempengaruhi era informasi, jauh meninggalkan jaman keemasan media cetak. Saat ini, kamera tidak hanya dibawa oleh seorang jurnalis, melainkan hampir setiap orang memiliki kamera pada ponselnya.
Tantangan sesungguhnya bagi jurnalis adalah menyampaikan informasi yang tepat, cepat dan akurat, namun tetap mengacu pada kode etik jurnalistik, sebagai acuan utama bagi seorang jurnalis.
Kecepatan media sosial
Sumber informasi lewat media sosial, seringkali mengalahkan produk pers yang butuh ketepatan informasi, dan narasumber sebagai acuan utama dalam sebuah sajian berita.
Jurnalis dituntut tidak menyampaikan informasi asal-asalan, walaupun hal itu cukup mudah dilakukan. Namun bagi seorang jurnalis, menyampaikan informasi yang cepat sebagai tuntutan transformasi zaman, tanpa mengabaikan kaidah dan kode etik jurnalistik adalah hal utama dalam tersaji nya sebuah berita.
Tidak bisa dipungkiri, hadirnya media sosial dianggap sebagai salah satu media untuk mempermudah dalam memperoleh ataupun menyampaikan sebuah informasi.
Namun, yang perlu dibedakan adalah sebuah sebuah informasi yang datang dari media sosial, belum tentu seluruhnya bisa dikatakan sebagai produk jurnalistik.
Membangun kecepatan dan ketepatan informasi di Era Digital
Era digital telah mengubah praktik jurnalisme menjadi era new jurnalisme, perubahan wajah jurnalistik mulai perlahan mengikuti perkembangan zaman. Hal itu bisa dengan mudah dilihat dari banyaknya berita yang menggunakan netizen sebagai narasumber.
Terkadang, berita yang dihasilkan oleh jurnalis sekalipun bisa bersumber dari konten netizen di platform media sosial.
Mengolah informasi dari netizen sebagai narasumber memang tidak ada salahnya, menjadikannya sebagai produk jurnalistik juga sah-sah saja, namun sebagai wadah informasi berita, pengolahan isu tersebut jelas wajib dibarengi dengan standarisasi produk jurnalistik yang layak untuk diterbitkan, berdasarkan kerangka dasar yakni 5W 1H.
Meneliti netizen sebagai narasumber tentu harus melihat kredibilitas sumber berita dan wajib melakukan verifikasi sumber informasi, agar informasi yang dikeluarkan tidak menjadi bias, liar, apalagi bersifat hoaks.
Era media sosial jelas memunculkan era baru informasi (jurnalisme warga). Perubahan ini menciptakan ekosistem informasi yang lebih cepat, interaktif, namun juga penuh tantangan bagi jurnalis profesi.
Era digital, Wartawan menghadapi pola ancaman baru, seperti serangan personal di media sosial atau potensi ancaman hukum terkait UU ITE.
Untuk itu, profesionalisme, ketepatan, kecepatan, verifikasi, studi kasus, dan pengolahan isu jadi dasar yang wajib bagi seorang jurnalisme modern.
Peran netizen dan pengaruh dalam informasi
Netizen, bisa dikatakan dengan istilah Jurnalisme Warga (Citizen Journalism), dengan berbekal ponsel pintar dan akses internet, netizen menjadi pemberi informasi pertama di lokasi kejadian (first-hand source). Mereka dapat mendistribusikan konten (foto/video) dengan cepat melalui media sosial.
Sebuah konten yang di upload netizen pada platform media sosial, seringkali bersifat mentah, dan menjadi tantangan bagi jurnalis profesional untuk melakukan verifikasi, dan menggali informasi lebih jauh terkait informasi yang disampaikan tersebut.
Kebebasan bermedia sosial, menjadikan netizen berperan aktif dalam berbagai isu, dan menjadi salah satu pemberi informasi yang tidak dapat abaikan, sebab peran penting netizen dalam dunia digital sangat berpengaruh, terutama pengguna media sosial.
Kabar buruknya, terkadang jurnalisme warga membawa berita palsu atau hoaks, sehingga verifikasi informasi dari netizen bersifat wajib bagi seorang jurnalis era digital.
Jadi, secara garis besar dunia informasi di era modern antara wartawan dan netizen bersifat kesinambungan dan dinamis, seperti ekosistem yang saling membutuhkan.
Keduanya mempunyai peran yang kuat di dalam menyampaikan informasi di dunia digital yang penuh dengan tantangan, dan seorang jurnalis wajib menguasai perkembangan teknologi, untuk keseimbangan informasi yang akurat dan kredibel.




