Kamis, April 2, 2026
spot_img
spot_img
spot_imgspot_img

Top News

Nasional

Kriminal

Bukan dengan Politik Praktis, Muhammadiyah Rawat Bhineka Tunggal Ika Lewat Gerakan Sosial

spot_img

Reportika.id || Magelang, Jateng – Muhammadiyah merawat bineka tunggal ika dengan caranya, yaitu lewat gerakan sosial bukan politik praktis. Oleh karena itu meskipun Muhammadiyah sebagai ormas Islam, tapi manfaatnya untuk semua.

 

Hal itu disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Kamis (22/1) dalam Rakornas BSI di Kabupaten Magelang. Pilihan gerakan sosial ini telah dipilih Muhammadiyah sejak awal.

 

“Kami mewujudkan bineka tunggal ika itu lewat pergerakan sosial. Tidak lewat pergerakan politik, dan itu lebih lekat. Bahwa kita bersama mereka saudara,” kata Haedar mencontohkan gerakan Muhammadiyah di Kawasan Timur Indonesia (KTI).

Baca Juga  Update Angkutan Mudik Pelabuhan Bakauheni H-3, Terjadi Lonjakan, Tercatat Sebanyak 143 Trip

 

Muhammadiyah di KTI fokus pada gerakan membangun sumber daya manusia melalui bidang pendidikan dan kesehatan. Pelayanan ini tidak hanya diberikan untuk warga Muhammadiyah atau umat Islam saja, tapi untuk semua.

 

“Sampai di Indonesia Timur lahir Krismuha (Kristen Muhammadiyah), saudara-saudara Kristen di sana merasa bagian dari Muhammadiyah,” ungkapnya.

 

Berbagai gerakan sosial yang dilakukan Muhammadiyah itu, imbuhnya, untuk merealisasikan dan mewujudkan kesejahteraan untuk semua. Maka kerja sama Muhammadiyah dengan berbagai pihak diarahkan untuk realisasi kesejahteraan.

Baca Juga  H+4 Arus Balik Pemudik di Pelabuhan Bakauheni Tampak Ramai Lancar

 

Khususnya dalam konteks mewujudkan kesejahteraan ekonomi bangsa, menurut Haedar masih membutuhkan kerja-kerja ekstra dan konkret – tidak boleh hanya sebatas artificial.

 

Haedar Nashir memandang, jika ekonomi umat membaik dan bergerak ke angka yang menggembirakan, kualitas pendidikan dan kesehatan umat akan ikut membaik sehingga indeks pembangunan manusia (IPM) ikut terkatrol naik.

 

Berbagai stakeholder diminta Haedar membuka mata atas kenyataan rendahnya IPM, serta indeks IQ bangsa Indonesia yang jika dihitung rerata bahkan masih di bawah Malaysia dan negara tetangga lainnya.

Baca Juga  Hari Peduli Sampah Nasional, Pemkot Bekasi Gelar Aksi Bersih-bersih dan Penanaman Pohon

 

“Tapi mayoritas masih seperti itu. Kenapa?, karena ekonominya masih berada di bawah. Dalam konteks itu, saya yakin kerja sama kita, sinergi, dan kolaborasi kita harus pada program-program yang praksis,” ungkapnya.

 

Program-program pemberdayaan bagi umat, imbuhnya, harus memiliki daya jangkau strategis jauh ke depan. Besarnya modal sosial yang dimiliki harus digunakan sebaik-baiknya untuk membangun peradaban bangsa yang maju.

 

Sumber: Muhammadiyah.or.id

Artikel Lainnya

Peristiwa

Daerah