Jumat, Februari 6, 2026
spot_img
spot_img
spot_imgspot_img

Top News

Nasional

Kriminal

Banjir Rendam Gang Mawar Margahayu, Walikota Bekasi Tinjau Langsung ke Lokasi

spot_img

Reportika.id || Kota Bekasi — Banjir kembali menggenangi permukiman warga di Gang Mawar, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur. Menyikapi kondisi tersebut, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto turun langsung ke lokasi untuk melihat dampak banjir sekaligus mendengarkan keluhan warga, Jumat (30/01/2026).

 

Dalam peninjauannya, Tri menjelaskan bahwa banjir terjadi akibat meningkatnya debit air kiriman dari wilayah hulu, terutama Bogor, yang mengalir melalui pertemuan Kali Cileungsi dan Kali Cikeas.

 

“Begitu tinggi muka air di titik pertemuan Cileungsi–Cikeas mencapai 500, kenaikan air di hilir tidak bisa dihindari. Bahkan pada kondisi ekstrem, ketinggian air pernah menembus angka 750 sampai 850,” ujar Tri.

 

Ia mengungkapkan, berdasarkan data di lapangan, sekitar 80 rumah warga terdampak banjir, mayoritas berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS). Dibandingkan dengan banjir besar tahun lalu, dampak kali ini dinilai masih lebih terkendali.

Baca Juga  SUARA SUMUT Desak Menteri Imipas Evaluasi Karutan Labuan Deli

 

Namun demikian, Tri menyoroti persoalan bangunan yang berdiri di sempadan sungai. Menurutnya, kondisi tersebut diakui oleh warga dan turut memperparah dampak banjir.

 

“Kami sudah berdiskusi dengan RW dan warga. Ada kesepakatan untuk melakukan pembongkaran secara mandiri. Setelah lahan benar-benar bersih, barulah BBWS bisa masuk melakukan penataan dan pembangunan,” jelasnya.

 

Tri memastikan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Kementerian PUPR masih mengalokasikan anggaran untuk penanganan Kali Bekasi, termasuk penguatan tebing sungai menggunakan sistem sheet pile.

 

“Ke depan tidak lagi menggunakan bronjong. Sheet pile jauh lebih kuat, lebih rapi, dan mampu menahan tekanan air dengan ketinggian yang lebih baik,” katanya.

 

Sementara itu, kondisi banjir di sejumlah wilayah Kota Bekasi mulai menunjukkan tanda-tanda surut seiring berhentinya hujan. Meski demikian, Tri menyebut masih ada warga di kawasan DAS, seperti Kali Lengkak, yang terpaksa mengungsi.

Baca Juga  Tangani Tanggul Jebol dan Kritis, Pemkab Bekasi Perkuat Koordinasi dengan BNPB dan BBWS

 

Untuk mengantisipasi hujan susulan, Pemkot Bekasi tetap menyiagakan sekitar 300 unit pompa air. Pompa yang sempat mengalami gangguan beberapa waktu lalu juga telah kembali beroperasi.

 

“Pompa yang terbakar kemarin sudah diperbaiki. Saat kejadian, langsung kami backup dengan pompa mobile dari BBWS,” ungkap Tri.

 

Saat ini, Pemkot Bekasi mengoperasikan empat unit pompa utama ditambah satu unit bantuan dari BBWS, dengan total kapasitas mencapai 18.000 meter kubik per detik.

 

Selain pompa, Pemkot juga mengembangkan inovasi penanganan banjir melalui pembangunan sumur resapan dalam di wilayah cekungan air. Sumur tersebut memiliki kedalaman hingga 40 meter dan direncanakan diperluas hingga 60 meter.

Baca Juga  Larangan Nikah Beda Agama dalam UU Perkawinan Konstitusional

 

“Kami sudah uji coba di Jatiasih dan Bekasi Jaya, hasilnya cukup efektif. Ke depan akan kita mulai dari lingkungan sekolah,” katanya.

Tri juga menegaskan bahwa keberadaan polder tetap memiliki peran strategis meski belum mampu sepenuhnya menahan banjir ekstrem.

 

“Polder itu fungsinya mengurangi, bukan menghilangkan banjir sepenuhnya. Kalau tidak ada polder, dampaknya pasti jauh lebih parah, apalagi dengan hujan anomali yang bisa berlangsung sampai sembilan jam,” tegasnya.

 

Terkait rencana pembangunan polder baru, Tri memastikan Pemkot Bekasi kini memprioritaskan kawasan Unisma, menyusul dukungan dari pihak Muhammadiyah.

 

“Polder bukan hanya untuk pengendalian banjir. Bisa menjadi cadangan air, ruang terbuka hijau, bahkan sarana rekreasi bagi warga,” pungkasnya.

 

Sul

Artikel Lainnya

Peristiwa

Daerah