Reportika.id || Karawang, Jawa Barat – Hujan bagi sebagian orang adalah berkah yang turun dari langit, namun bagi warga Dusun Sentul, Desa Cikampek Selatan, hujan tak ubahnya lonceng peringatan akan datangnya banjir.
Saat awan menghitam, kecemasan mulai menggenang, jauh sebelum air benar-benar masuk di ambang pintu.
Ini bukan sekadar soal air setinggi 50 sentimeter. Ini adalah soal rutinitas yang terhenti, perabot yang perlahan rusak dimakan waktu, dan kesehatan yang dipertaruhkan dalam rendaman air kotor yang tak kunjung surut.

Janji yang Hanyut, Solusi yang Surut Bertahun-tahun lamanya, skenario ini berulang tanpa bosan,dan tidak ada solusi dari pihak pemerintahan setempat.
Warga sudah kenyang dengan keluhan, namun tampaknya telinga kekuasaan masih tersumbat oleh riuh rendah urusan lain.
Mengapa wilayah sepadat Kecamatan Klari harus terus-menerus mengakrabi banjir tanpa ada solusi permanen?
Kita perlu bertanya:
Di mana letak macetnya koordinasi antar instansi?
Ke mana anggaran penanggulangan bencana bermuara jika drainase tetap saja mampet dan tak berdaya?
Banjir menahun adalah bukti nyata dari pembiaran yang terstruktur.
Ketika warga dibiarkan berjuang sendirian menyelamatkan harta benda setiap musim hujan tiba, di situlah kehadiran pemerintah setempat patut dipertanyakan keberadaannya.
Bukan Sekadar Angka, Tapi Nyawa dan Marwah
Mengukur penderitaan rakyat tidak bisa hanya menggunakan penggaris di atas genangan. 50 sentimeter air mungkin angka kecil bagi mereka yang duduk di kursi empuk kantor pemerintahan yang kering dan dingin.
Namun, bagi warga Dusun Sentul, itu berarti malam-malam tanpa tidur, anak-anak yang tak bisa sekolah dengan tenang, dan kerugian ekonomi yang terus menggerus kantong-kantong rakyat kecil.
Aparat setempat terutama Kepala Desa setempat hadir bukan untuk mencatat keluhan, tapi untuk mengeksekusi jawaban.
Rakyat tidak butuh sekadar peninjauan saat air sudah tinggi, rakyat butuh perbaikan sistemis agar kaki mereka tak lagi perlu basah di dalam rumah sendiri.
Edi (edoy)




